[ KETAATAN YANG SALAH BISA CELAKA ABADI ]
Taqlid Buta yang membahayakan
Seorang sahabat bernama Saad bin Abi Waqqas radhiyallahu ‘anhu masuk
Islam ketika usianya masih remaja belia. Saat itu ibunya yang merupakan
seorang wanita musyrik fanatik, telah mendapat bocoran bahwa puteranya
menjadi pengikut Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم . Langsung ibunya
menginterogasi Saad: “Benarkah berita yang kut
erima
bahwa kau, Saad, sudah menjadi pengikut agama Muhammad dan meninggalkan
agama nenek moyang kita, yaitu menyembah berhala?!” Maka Saad tidak
dapat bersembunyi lagi. Iapun menjawab: “Benar, wahai ibu.” Maka ibunya
menjadi sangat murka.
Maka Saad segera konsultasi kepada
Rasulullah صلى الله عليه و سلم menceritakan apa yang ia alami.
“Bagaimana nasibku ini, ya Rasulullah?” Maka Nabi صلى الله عليه و سلم
balik bertanya: “Engkau sendiri bagaimana Saad? Apa pendapatmu mengenai
keadaan ini?” Saadpun menjawab: “Demi Allah, hatiku sudah mantap dalam
iman dan islam, ya Rasulullah. Dan akalku mengatakan bahwa mustahil
bagiku untuk harus kembali menyembah berhala yang tidak dapat sedikitpun
memberi manfaat atau mudharat bagi hidupku…!” Maka Nabipun berkata:
“Jika demikian, Saad, berdoalah kepada Allah سبحانه و تعالى semoga ibumu
mendapat hidayah dari-Nya. Namun, ingat, wahai Saad, birrul-walidain
(berbuat baiklah kepada orang-tuamu)…”
Maka sejak saat itu
Saad-pun menampilkan dirinya sebagai seorang anak yang berbakti sebaik
mungkin kepada orang-tuanya. Apapun yang disuruh orang-tuanya pasti ia
kerjakan. Bahkan hal-hal yang belum disuruhpun, asalkan itu dapat
menyenangkan hati orang-tuanya, juga ia kerjakan segera. Hanya satu hal
yang tidak mau ia kerjakan: memenuhi permintaan ibunya agar ia murtad
kembali kepada agama kemusyrikan.
Setelah berlalu beberapa
waktu, ibunyapun akhirnya memanggil Saad: “Bagaimana Saad, apakah kau
sudah memenuhi permintaan ibu? Meninggalkan agama Muhammad صلى الله عليه
و سلم dan kembali kepada agama nenek-moyang kita?” Maka, pada saat itu
Saad memperoleh ilham dari Allah سبحانه و تعالى . Ia lalu menjawab:
“Demi Allah, yang jiwaku di dalam genggamanNya. Jika ibu mogok makan
hingga nyawa ibu melayang lalu mati, lalu diganti Allah سبحانه و تعالى
dengan nyawa baru dan itupun melayang, lalu diganti Allah سبحانه و تعالى
dengan nyawa baru dan itu juga melayang, bahkan berratus nyawa keluar
masuk tubuh ibu, aku tidak akan tinggalkan agama Muhammad صلى الله عليه و
سلم yang sudah kuyakini kebenarannya itu…!”
Mendengar jawaban
tegas puteranya seraya mengenang bahwa semenjak menjadi muslim, Saad
telah berubah menjadi anak yang luar biasa baiknya dan berbaktinya
kepada orang-tua, maka hati ibunyapun luluh sehingga ia berkata: “Jika
demikian, Saad, tolong ajarkan ibu bagaimana caranya menjadi seorang
muslim?” Subhaanallah…!
Adapun ketaatan tercela ialah ketika
seorang karyawan perusahaan, anak atau anggota organisasi mematuhi
pimpinan atau orang-tuanya semata-mata karena ia meyakini prinsip bahwa
mereka harus ditaati, apapun isi perintahnya, bagaimanapun keadaannya,
suka maupun tidak suka. Bahkan mereka membanggakan ketaatan membabi-buta
tersebut.
Barangsiapa selalu mentaati pimpinan atau
orang-tuanya, baik dalam urusan yang benar ataupun batil di mata Allah
سبحانه و تعالى dan RasulNya صلى الله عليه و سلم , maka si karyawan, anak
atau anggota tersebut dipandang sebagai “orang yang taat” dan patut
dihormati bahkan diberikan penghargaan, pujian dan hadiah.
Dan
untuk menyempurnakan penilaian tadi, si karyawan atau anak atau anggota
tersebut menyerahkan penghormatan dan kepercayaannya kepada pimpinan
atau orang-tua sampai ke derajat dimana jika suatu keraguan muncul di
dalam akal atau hatinya terhadap suatu perintah, maka ia berkata kepada
dirinya sendiri: “Sudahlah, tidak usah diperdebatkan lagi, para pimpinan
kita kan jauh lebih tahu daripada kita, kita kan jauh di bawah mereka.
Sudahlah, kita taat dan tsiqoh (percaya) sajalah kepada mereka! Tentu
mereka jauh lebih faham daripada kita. Tidak mungkin apa yang mereka
suruh itu buruk buat kita, mereka pasti sudah mempertimbangkannya
masak-masak. Kalau ketaatan kita harus selalu dilandasi pemahaman, maka
itu hal biasa. Tapi kalau kita tetap taat dan tsiqoh tanpa memahami
landasan perintah pimpinan, barulah itu istimewa.”
Sehingga
bisa terjadi bahwa seorang pemimpin organisasi da’wah menyuruh para
anggotanya untuk memilih orang fasik menjadi pemimpin di tengah
masyarakat. Kemudian para anggotanya mentaati sepenuhnya perintah batil
tersebut. Padahal track record (jejak-rekam) orang fasik tersebut sudah
jelas memusuhi Islam dan da’wah selama ini. Tetapi karena para anggota
organisasi sedemikian terbiasa dengan ketaatan membabi-buta, merekapun
memenuhi permintaan pimpinan organisasi. Ini merupakan contoh ketaatan
tercela yang sangat jelas.
Jadi, akhirnya mereka tidak pernah
mengasah otaknya untuk bertanya, adakah sebenarnya perintah pimpinan
atau orang-tuanya selaras atau tidak dengan perintah Allah سبحانه و
تعالى dan rasulNya صلى الله عليه و سلم ? Sebab itu sudah tidak menjadi
persoalan lagi. Yang menjadi persoalan ialah bagaimana memperoleh
penilaian positif, pengakuan, penghargaan, pujian dari pimpinan atau
orang-tua dengan jalan selalu mentaati apapun yang mereka suruh.
Akhirnya, orang-orang seperti ini telah mengabaikan mengejar ridha Allah
سبحانه و تعالى sebagai tujuan utama kehidupan. Sebab bagi mereka yang
penting adalah mengejar ridha pimpinan atau ridha orang-tua, dengan
keyakinan bahwa jika pimpinan atau orang-tua sudah ridha pastinyalah
Allah سبحانه و تعالى juga meridhai ketaatannya tersebut. Memang benar
terdapat hadits Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم yang berbunyi:
رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الْوَالِدِ وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ
"Ridha Allah terdapat pada ridha seorang bapak, dan murka Allah juga terdapat pada murkanya seorang bapak." (TIRMIDZI – 1821)
Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda: “Barangsiapa mentaati aku, ia
mentaati Allah سبحانه و تعالى dan barangsiapa mendurhakaiku, maka ia
telah mendurhakai Allah سبحانه و تعالى . Barangsiapa mentaati pemimpin,
maka ia mentaati aku dan barangsiapa mendurhakai pemimpin, maka ia
mendurhakaiku.” (HR Ibnu Khuzaimah)
Kedua hadits di atas
merupakan hadits shahih. Namun tentunya kita tidak boleh melihatnya
secara terpisah dari ayat-ayat Allah سبحانه و تعالى dan hadits-hadits
Nabi صلى الله عليه و سلم lainnya. Sehingga Allah سبحانه و تعالى
berfirman:
وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي
مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا
“Dan jika keduanya (orang-tuamu) memaksamu untuk mempersekutukan dengan
Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah
kamu mengikuti keduanya.” (QS Lukman 15)
Ketika orang-tua sudah
memerintahkan anak agar menjadi hamba yang musyrik sudah barang tentu
si anak tidak lagi wajib mentaati orang-tuanya, bahkan si anak menjadi
haram mentaati orang-tuanya. Sebab Allah سبحانه و تعالى tidak pernah
ridha kepada orang yang mempersekutukan diriNya dengan apapun. Bahkan
dosa syirik merupakan dosa yang tidak terampuni..!
إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ
لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia
mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang
dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh
ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS An-Nisa 48)
Jadi,
walaupun Nabi صلى الله عليه و سلم menyatakan bahwa ridha Allah سبحانه و
تعالى terdapat pada ridha orang-tua, tetapi mustahil seorang anak akan
diridhai Allah سبحانه و تعالى ketika ia mentaati perintah orang-tuanya
untuk berbuat dosa syirik..!
Demikian pula dengan ketaatan
kepada pimpinan. Kita harus selalu bersikap kritis dan teliti jangan
sampai ketaatan kepada pimpinan menyebabkan hilangnya keridhaan
Rasulullah صلى الله عليه و سلم bahkan keridhaan Allah سبحانه و تعالى ?
Mungkinkah itu terjadi? Mungkin sekali. Karena itulah Rasulullah صلى
الله عليه و سلم sampai bersabda:
“Akan muncul pemimpin-pemimpin
yang kalian kenal, tetapi kalian tidak menyetujuinya.Orang yang
membencinya akan terbebaskan (dari tanggungan dosa). Orang yang tidak
menyetujuinya akan selamat. Orang yang rela dan mematuhinya, tidak
terbebaskan (dari tanggungan dosa)..” (MUSLIM 3445)
Nabi صلى
الله عليه و سلم mengatakan “Orang yang membencinya akan terbebaskan
(dari tanggungan dosa). Orang yang tidak menyetujuinya akan selamat.
Orang yang rela dan mematuhinya, tidak terbebaskan (dari tanggungan
dosa).” Jadi, jangankan tidak mentaatinya, malah Nabi صلى الله عليه و
سلم justeru menjamin kebaikan jika kita membenci dan tidak menyetujui
pemimpin seperti itu. Sedangkan orang yang malah rela dan mematuhi
pemimpin seperti itu berarti Nabi صلى الله عليه و سلم malah berlepas
diri dari tanggungan dosa yang dipikul karena mentaatinya secara taqlid
(membabi-buta).
Pantas bila Allah سبحانه و تعالى ketika
menyuruh orang-orang beriman agar mentaati para pemimpin hendaknya
memperhatikan apakah pemimpin tersebut senantiasa menjadikan Allah
سبحانه و تعالى dan RasulNya صلى الله عليه و سلم sebagai rujukan utama
dalam penyelesaian berbagai perselisihan. Sebab, hanya dengan memenuhi
kriteria itu sajalah seorang pemimpin layak ditaati oleh ummat Islam.
Demikianlah Allah سبحانه و تعالى jelaskan di dalam KitabNya. Jika tidak
kembali kepada aturan dan hukum Allah سبحانه و تعالى berarti kembalinya
kepada hukum thaghut. Pilihan hanya dua: kembali kepada Allah سبحانه و
تعالى atau kepada thaghut.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ
وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ
آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ
أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا
بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالا بَعِيدًا
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya),
dan ulil amri (para pemimpin) di antara kamu. Kemudian jika kamu
berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah
(Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada
Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan
lebih baik akibatnya. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang
mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan
kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada
thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan
syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang
sejauh-jauhnya.(QS An-Nisa 59-60)
Dan jika seseorang mentaati
pemimpin semata karena meyakini bahwa mentaati pemimpin merupakan
kebaikan yang harus dilakukan tanpa peduli apapun landasan perintahnya,
tanpa sikap kritis dan teliti, tanpa sadar bahwa ternyata pemimpin malah
mengajak untuk mendekati bahkan mentaati thaghut, maka orang tersebut
sungguh berada dalam bahaya. Bahaya bukan sekedar di dunia, tetapi
bahaya di akhirat. Itulah bahaya yang sejati dan abadi. Wa na’udzu
billaahi min dzaalika…!
يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ
يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا
وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا
فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا رَبَّنَا آَتِهِمْ
ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا
“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka
berkata: "Alangkah baiknya, andaikata kami ta`at kepada Allah dan ta`at
(pula) kepada Rasul". Dan mereka berkata: "Ya Rabb kami, sesungguhnya
kami telah menta`ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu
mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Rabb kami,
timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan
kutukan yang besar". (AS Al-Ahzab 66-68)
Sumber: http://www.facebook.com/pages/MAJELIS-TAUSIAH-PARA-KYAI-USTADZ-INDONESIA/203914683789