• Ini adalah posting dari label "Dakwah", kembali ke Halaman Utama
  • Sekte Kristen yang Mirip Islam, Hati-Hati! Kanisakh Ortodoks Syiria

    KOS ( Kanisakh Ortodoks Syiria ) merupakan salah satu sekte aliran kristen yang ajarannya sangat persis dengan Islam dari cara berpakaiannya yang memakai peci/kopiah, baju koko, sajadah dan juga jilbab. 

    Awal Kelahirannya sejarah menyebutkan, paham ortodoks lahir dari perselisihan antara Gereja Alexandria, Gereja Roma, dan Kaisar Konstantin. Puncaknya, pada masa Kaisar Bizantium Marqilanus (450-458 M) seabad lebih sebelum Nabi Muhammad lahir di Mekkah (571). Kala itu, tepatnya pada tahun 451, diadakan Majma Khalkaduniyah (Konsili Kalkedonia) dalam hal ketuhanan. Buntut dari konsili ini menimbulkan perpecahan di antara gereja-gereja yang sulit disatukan kembali.

    Nah, rupanya, sejak inilah umat Kristen terpecah menjadi dua. Di satu pihak berpusat di Roma dan Bizantium, dipimpin Bapa Laon (440-461). Kelompok ini mengakui, al-Masih mempunyai dua sifat: Tuhan dan manusia. Kelompok ini kemudian lebih dikenal dengan Kristen dan Katholik.

    Di pihak lain, berpusat di Alexandria dan Antakia di bawah pimpinan Bapa Disqures (444-454 Masehi). Kelompok ini berpegang kuat pada sifat tunggal bagi al-Masih. Mereka tidak setuju dengan aliran Kristen yang mengakui sifat Tuhan sekaligus manusia. Kelompok inilah yang kemudian dikenal dengan kelompok ortodoks. Nama 'ortodoks' dipakai karena berarti: menganut ajaran agama yang dianggap benar, yang asli. Karena itu, penganut ortodoks mencoba untuk hidup secara lurus, sesuai dengan tuntutan awal dari kelahiran agamanya.

    Penganut ortodoks sendiri terdiri atas beberapa toifah (komunitas berdasarkan kesamaan kultur, tradisi, bahasa, dan bangsa). Karenanya ada toifah Koptik, Syrian, Armenian, dan Habasah. Sedang 'aqidahnya' sama.


    Bible Arab- Bible Kristen Orthodoks Syiria mirip Al-Quran

    Image.

    Kitabnya KOS






    Kitab Shalat Rabbaniyah dengan kaligrafi "Abana = Bapa Kami"(Matius)
    Baca selengkapnya dan tonton videonya di: http://at-thaifahmanshurah.blogspot.com/2012/06/kristen-mirip-islam-hati-hati-kristen.html







    readmore »»  

    Continue lendo >>
    Kalau manfaat, jangan lupa dishare...

    Hati-hati Kaligrafi Kristiani dijual bebas, ABANA

    Bisa dipastikan, hampir tak seorang pun umat Islam yang tidak menyukai kaligrafi Islam yang memuat ayat-ayat tertentu dari Al-Qur‘an. Misalnya, kaligrafi khat Arab bacaan Allah, Allahu Akbar, Muhammad, Basmalah, ayat Kursi, surat Al-Fatihah, dll. Ini adalah hal yang baik dan perlu dilestarikan. Sebab memajang ayat-ayat dengan tulisan indah di rumah adalah salah satu ekspresi kecintaan kepada Al-Qur‘an.

    Tetapi, untuk kaligrafi model satu ini –dan kaligrafi lainnya yang sejenis– kaum Muslimin jangan tertipu oleh musang berbulu ayam. Sebab kaligrafi ini pun indah dan dijual bebas di berbagai toko buku. Kaligrafi melingkar ukuran setengah meter persegi ini bagian tengahnya bertuliskan “abana” yang berarti “bapa kami”. Dalam teologi Kristen, kata ini berarti Allah (Allah Bapak). Bila dibaca dengan teliti, maka bacaan yang lengkap adalah “abana alladzi fis-samawati….dst”.
    Kaligrafi-Abana


    Tanyakanlah kepada ustadz yang hafal Al-Qur‘an, ayat tersebut ada di surat apa dan ayat berapa? Pasti ustadz tersebut akan geleng-geleng kepala seraya menjawab bahwa itu bukan ayat Al-Qur‘an. Jawaban ini tepat sekali, karena kaligrafi ini bukan Al-Qur‘an, tapi ayat Bibel, tepatnya Injil Matius pasal 6 ayat 9-13 yang terjemah Indonesianya demikian:

    “Karena itu berdoalah demikian: Bapak kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan jangan­lah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.”

    Entah sudah berapa banyak kaum Muslimin yang menghiasi rumah­nya dengan ayat Bibel berupa kaligrafi kristiani tersebut, mengingat kaligrafi itu dijual di seluruh Indonesia. Padahal sebutan “Bapak Kami” kepada Allah adalah kesalahan besar yang bertentangan dengan Al-Qur`an surat Al-Ikhlash 1-4.

    Sumber: http://myquran.org/forum/index.php?topic=56703.0 

     

    Artinya : "Cintailah musuh-musuh kalian dan berkahilah orang yang mencela kalian, berbuat baiklah kepada orang yang memusuhi engkau, dan sambunglah silahturahim kepada orang-orang yang berbuat jelek kepada engkau dan orang-orang yang mengusir engkau agar menjadi anak-anak bapak kamu yang ada di surga." (injil matius 5 : 44-45)


    readmore »»  

    Continue lendo >>
    Kalau manfaat, jangan lupa dishare...

    Murtad Tanpa Sadar

    Murtad Tanpa Sadar

    oleh Ihsan Tandjung

    Ada sebuah buku berjudul asli Al-Iman wa Nawaqidhuhu & At-Tibyan Syarhu Nawaqidhil Iman. Buku ini ditulis oleh duet Dr Safar Hawali & Syaikh Sulaiman Nashir Ulwan. Buku ini diterbitkan oleh penerbit Etoz Publishing. Yang menariknya, penerbit menerjemahkan judul buku tersebut dengan atraktif sekaligus menghentak sanubari. Judul bahasa Indonesianya ialah Murtad Tanpa Sadar Kok Bisa?

    Benar saudaraku. Ternyata di dalam hidup ini ada perkara-perkara yang jika dilakukan, bahkan sekedar diucapkan, dapat menjerumuskan seorang muslim ke dalam sebuah keadaan murtad tanpa sadar. Artinya, ia tidak sekedar terlibat dalam sembarang dosa. Tapi ia terlibat ke dalam urusan yang dapat menyebabkan batalnya keimanan serta keislamannya. Hal ini menjadi lebih serius jika kita kaitkan dengan kondisi zaman modern yang sangat sarat dengan fitnah (ujian) terhadap iman seorang muslim. Sehingga kita jadi teringat sebuah hadits di mana Rasulullah Muhammad صلى الله عليه و سلم bersabda:

    بَادِرُوا فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

    Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bersegeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan paginya menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.” (HR. Ahmad, No. 8493)

    Sungguh penulis khawatir bahwa kondisi dunia dewasa ini persis sebagaimana Nabi صلى الله عليه و سلم gambarkan di dalam hadits di atas. Laksana malam yang gelap gulita. Fitnah (ujian) telah meliputi segenap aspek kehidupan modern. Dan derajat fitnah tersebut sedemikian rupa sehingga potensial menyebabkan seorang muslim sulit memelihara ke-istiqomahannya. Pagi masih dinilai Allah سبحانه و تعالى beriman, namun sore harinya telah menjadi kafir. Bayangkan…! Nabi صلى الله عليه و سلم di dalam hadits di atas tidak menggambarkan kondisi gelap gulita tersebut berakibat sekedar “di waktu pagi berbuat kebaikan dan di waktu sore berbuat kejahatan”. Sebab jika demikian penggambarannya, masih lebih ringan. Sebab betapapun seseorang melakukan kejahatan, ia masih mungkin dipandang tetap memiliki iman. Sedangkan Nabi صلى الله عليه و سلم jelas-jelas menggambarkan bahwa kegelapan akibat rangkaian fitnah tersebut berakibat “seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan paginya menjadi kafir”. Wa na’udzu billahi min dzaalika…!

    Mari kita lihat contohnya. Sebut saja Pembatal Keislaman nomor empat dan nomor sembilan. Pembatal Keislaman nomor empat di dalam buku MTS (Murtad Tanpa Sadar) ialah “Meyakini Bahwa Selain Petunjuk Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم Lebih Sempurna Daripada Petunjuknya”. Sedangkan Pembatal Keislaman nomor sembilan ialah “Meyakini Bahwa Manusia Boleh Keluar Dan Tidak Mengikuti Syariat Allah سبحانه و تعالى dan RasulNya صلى الله عليه و سلم ”.

    Sungguh, tidak sedikit muslim di era modern ini yang terjatuh kepada dua perkara di atas. Mereka masih menaruh harapan kepada petunjuk, panduan, isme, ideologi, bimbingan hidup, sistem hidup atau falsafah hidup selain yang bersumber dari Allah سبحانه و تعالى dan RasulNya صلى الله عليه و سلم . Lalu mereka memperlakukan berbagai petunjuk tersebut seolah setara bahkan lebih baik dan lebih sempurna daripada ajaran Al-Islam. Mereka meragukan Al-Islam sebagai pemersatu keanekaragaman ummat manusia lalu meyakini ada selain Al-Islam yang dapat memainkan peranan pemersatu tersebut. Seolah mereka mengabaikan kesempurnaan ajaran atau syariat Allah سبحانه و تعالى. Lalu menaruh kepercayaan akan kesempurnaan ajaran atau isme lainnya. Padahal di dalam Al-Qur’an dia membaca ayat Allah سبحانه و تعالى yang berbunyi:

    الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

    “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah [5] : 3)

    Salah satu faham modern yang dewasa ini secara gencar dikampanyekan oleh masyarakat Barat (baca: kaum Yahudi dan Nasrani) ialah Pluralisme. Sebagian besar penghuni planet bumi dewasa ini telah terpengaruh dan percaya kepada faham tersebut. Mereka memandangnya sebagai sebuah faham yang baik dan positif. Bahkan faham ini telah dipandang sebagai indikator kemajuan atau kemodernan seseorang atau bahkan suatu bangsa. Memang, pada tahap awal, Pluralisme mengajarkan suatu hal yang baik yaitu keharusan setiap orang agar menghormati orang lain apapun latar belakang agama dan keyakinannya. Sampai di sini kita tidak punya masalah dengan ajaran ini. Bahkan Islam-pun menganjurkan kita untuk berlaku demikian. Tetapi persoalannya, Pluralisme tidak menerima jika seseorang hanya sebatas memiliki sikap seperti itu. Ia menuntut setiap orang agar mengembangkan “sikap modern” sedemikian rupa sehingga tanpa ragu dan bimbang rela berkata: “Semua agama baik. Semua agama sama. Semua agama benar.” Nah, jika seorang muslim sampai rela mengeluarkan kata-kata seperti itu, barulah ia benar-benar diakui sebagai seorang penganut Pluralisme. Barulah ia akan diberi label “muslim modern” dan “muslim moderat” oleh masyarakat dunia, khususnya masyarakat barat.

    Apa masalahnya bila seorang muslim berkata: “Semua agama baik. Semua agama sama. Semua agama benar”? Saudaraku, ungkapan seperti itu menunjukkan bahwa yang mengucapkannya tidak setuju dengan beberapa ayat di dalam Kitabullah Al-Qur’anul Karim. Padahal ketidaksetujuan seseorang akan isi Al-Qur’an menunjukkan bahwa dirinya meragukan kebenaran fihak yang telah mewahyukannya, yaitu Allah سبحانه و تعالى . Padahal tidak ada satupun firman Allah سبحانه و تعالى yang mengandung kebatilan. Subhaanallah…! Seluruh isi Al-Qur’an sepatutunya diterima oleh setiap orang yang mengaku muslim sebagai kebenaran mutlak, karena ia merupakan Kalamullah (ucapan-ucapan Allah سبحانه و تعالى). Sehingga setiap malam saat sholat tahajjud Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم selalu membaca doa yang sebagian isinya berbunyi:

    أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ وَقَوْلُكَ حَقٌّ

    “…(Ya Allah) Engkaulah Al Haq (Yang Maha Benar), dan janji-Mu haq (benar adanya), dan perjumpaan dengan-Mu adalah benar dan firman-Mu benar…” (HR. Bukhari, No 1053)

    Maka seorang muslim yang termakan oleh faham Pluralisme sehingga melontarkan kalimat-kalimat batil seperti di atas sungguh potensial terjangkiti virus MTS. Sebab ia sekurang-kurangnya telah menolak tiga ayat Al-Qur’an. Ia telah memandang dirinya lebih cerdas daripada Allah سبحانه و تعالى Yang Maha Tahu dan Maha Benar pengetahuannya. Ketiga ayat tersebut ialah:

    إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

    “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran [3] : 19)

    وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

    “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran [3] : 85)

    رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ

    “Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.” (QS. Al-Hijr [15] : 2)

    Bagaimana mungkin seorang muslim yang pernah membaca ketiga ayat di atas, sambil mengaku beriman akan Al-Qur’an sebagai kumpulan firman Allah سبحانه و تعالى Yang Maha Tahu dan Maha Benar pengetahuannya, lalu akan dengan ringannya tega melontarkan kata-kata: “Semua agama baik. Semua agama sama. Semua agama benar”?

    Coba perhatikan cuplikan diskusi yang sering terjadi di sekitar kita. Ada beberapa orang sedang mendiskusikan soal perselisihan antar dua kelompok berbeda agama yang terjadi di tengah masyarakat. Yang satu kelompok kaum muslimin, sedangkan yang satu lagi kelompok kaum non-muslim. Lalu masing-masing fihak mempertahankan argumennya masing-masing. Akhirnya suasana diskusi menjadi panas dan hampir tidak terkendali. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka melontarkan sebuah upaya menenteramkan situasi dengan melontarkan kata-kata: “Sudahlah tenman-teman. Marilah kita ingat selalu bahwa kita ini kan satu bangsa. Agama boleh berbeda. Tapi kita kan tetap satu bangsa. Toh, setiap agama kan maksudnya baik. Tujuannya mulia. Dan semuanya kan menuju tujuan yang sama yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Kenapa sih kita tidak bisa saling memahami dan bersikap toleran?”

    Bukankah contoh kasus di atas merupakan suasana yang sangat sering kita temui di dalam kehidupan sehari-hari kita? Dan diskusi hangat dengan akhir seperti itu kian hari kian mudah kita temui belakangan ini. Kasus dan pelaku perselisihan boleh berbeda, tapi ujung akhir penyelesaiannya kurang lebih sama. Yaitu mengakui bahwa setiap agama punya maksud yang sama dan baik. Benarkah demikian? Kalaulah semua agama punya maksud dan tujuan yang sama dan baik, lalu mengapa kita harus memilih Al-Islam? Mengapa kita tidak pilih yang lainnya saja? Bukankah Islam secara praktek lebih rumit dan menuntut pengorbanan dibandingkan yang lainnya? Islam mewajibkan setiap muslim sholat beribadah kepada Allah سبحانه و تعالى sekurangnya lima kali sehari-semalam. Islam mewajibkan setiap satu tahun sekali selama sebulan penuh muslim menahan rasa lapar, dahaga dan berhubungan suami-istri di siang hari. Mengapa tidak kita pilih agama lainnya yang lebih sederhana dan ringan? Artinya, pandangan yang mengatakan bahwa semua agama bermaksud “sama dan baik” mengingkari statement Allah سبحانه و تعالى yang berfirman:

    إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

    “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran [3] : 19)

    وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

    “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran [3] : 85)

    Realitasnya dewasa ini sangat mudah kita jumpai di sekeliling kita kaum muslimin yang melontarkan kata-kata batil seperti di atas. Astaghfirullahal ‘azhiem. Allahummagh fir lil muslimin wal muslimat. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kaum Muslimin dan Muslimat. Laa haula wa laa quwwata illa billah…!

    Ya Allah, lindungilah kami dari virus penyakit murtad tanpa sadar di era modern penuh fitnah ini. Amiin. Amiin ya Rabbal ‘aalamiin.

    اللهم إني أعوذبك مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ وَدَرَكِ الشَّقَاءِ وَسُوءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ

    “Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari cobaan yang memayahkan, kesengsaraan yang menderitakan, takdir yang buruk dan cacian musuh.” (HR. Bukhari, No. 5871) (Eramuslim.com)
    readmore »»  

    Continue lendo >>
    Kalau manfaat, jangan lupa dishare...

    Ketaatan yang Salah Bisa Celaka Abadi

    [ KETAATAN YANG SALAH BISA CELAKA ABADI ]
    Taqlid Buta yang membahayakan

    Seorang sahabat bernama Saad bin Abi Waqqas radhiyallahu ‘anhu masuk Islam ketika usianya masih remaja belia. Saat itu ibunya yang merupakan seorang wanita musyrik fanatik, telah mendapat bocoran bahwa puteranya menjadi pengikut Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم . Langsung ibunya menginterogasi Saad: “Benarkah berita yang kut

    erima bahwa kau, Saad, sudah menjadi pengikut agama Muhammad dan meninggalkan agama nenek moyang kita, yaitu menyembah berhala?!” Maka Saad tidak dapat bersembunyi lagi. Iapun menjawab: “Benar, wahai ibu.” Maka ibunya menjadi sangat murka.

    Maka Saad segera konsultasi kepada Rasulullah صلى الله عليه و سلم menceritakan apa yang ia alami. “Bagaimana nasibku ini, ya Rasulullah?” Maka Nabi صلى الله عليه و سلم balik bertanya: “Engkau sendiri bagaimana Saad? Apa pendapatmu mengenai keadaan ini?” Saadpun menjawab: “Demi Allah, hatiku sudah mantap dalam iman dan islam, ya Rasulullah. Dan akalku mengatakan bahwa mustahil bagiku untuk harus kembali menyembah berhala yang tidak dapat sedikitpun memberi manfaat atau mudharat bagi hidupku…!” Maka Nabipun berkata: “Jika demikian, Saad, berdoalah kepada Allah سبحانه و تعالى semoga ibumu mendapat hidayah dari-Nya. Namun, ingat, wahai Saad, birrul-walidain (berbuat baiklah kepada orang-tuamu)…”

    Maka sejak saat itu Saad-pun menampilkan dirinya sebagai seorang anak yang berbakti sebaik mungkin kepada orang-tuanya. Apapun yang disuruh orang-tuanya pasti ia kerjakan. Bahkan hal-hal yang belum disuruhpun, asalkan itu dapat menyenangkan hati orang-tuanya, juga ia kerjakan segera. Hanya satu hal yang tidak mau ia kerjakan: memenuhi permintaan ibunya agar ia murtad kembali kepada agama kemusyrikan.

    Setelah berlalu beberapa waktu, ibunyapun akhirnya memanggil Saad: “Bagaimana Saad, apakah kau sudah memenuhi permintaan ibu? Meninggalkan agama Muhammad صلى الله عليه و سلم dan kembali kepada agama nenek-moyang kita?” Maka, pada saat itu Saad memperoleh ilham dari Allah سبحانه و تعالى . Ia lalu menjawab: “Demi Allah, yang jiwaku di dalam genggamanNya. Jika ibu mogok makan hingga nyawa ibu melayang lalu mati, lalu diganti Allah سبحانه و تعالى dengan nyawa baru dan itupun melayang, lalu diganti Allah سبحانه و تعالى dengan nyawa baru dan itu juga melayang, bahkan berratus nyawa keluar masuk tubuh ibu, aku tidak akan tinggalkan agama Muhammad صلى الله عليه و سلم yang sudah kuyakini kebenarannya itu…!”

    Mendengar jawaban tegas puteranya seraya mengenang bahwa semenjak menjadi muslim, Saad telah berubah menjadi anak yang luar biasa baiknya dan berbaktinya kepada orang-tua, maka hati ibunyapun luluh sehingga ia berkata: “Jika demikian, Saad, tolong ajarkan ibu bagaimana caranya menjadi seorang muslim?” Subhaanallah…!

    Adapun ketaatan tercela ialah ketika seorang karyawan perusahaan, anak atau anggota organisasi mematuhi pimpinan atau orang-tuanya semata-mata karena ia meyakini prinsip bahwa mereka harus ditaati, apapun isi perintahnya, bagaimanapun keadaannya, suka maupun tidak suka. Bahkan mereka membanggakan ketaatan membabi-buta tersebut.

    Barangsiapa selalu mentaati pimpinan atau orang-tuanya, baik dalam urusan yang benar ataupun batil di mata Allah سبحانه و تعالى dan RasulNya صلى الله عليه و سلم , maka si karyawan, anak atau anggota tersebut dipandang sebagai “orang yang taat” dan patut dihormati bahkan diberikan penghargaan, pujian dan hadiah.

    Dan untuk menyempurnakan penilaian tadi, si karyawan atau anak atau anggota tersebut menyerahkan penghormatan dan kepercayaannya kepada pimpinan atau orang-tua sampai ke derajat dimana jika suatu keraguan muncul di dalam akal atau hatinya terhadap suatu perintah, maka ia berkata kepada dirinya sendiri: “Sudahlah, tidak usah diperdebatkan lagi, para pimpinan kita kan jauh lebih tahu daripada kita, kita kan jauh di bawah mereka. Sudahlah, kita taat dan tsiqoh (percaya) sajalah kepada mereka! Tentu mereka jauh lebih faham daripada kita. Tidak mungkin apa yang mereka suruh itu buruk buat kita, mereka pasti sudah mempertimbangkannya masak-masak. Kalau ketaatan kita harus selalu dilandasi pemahaman, maka itu hal biasa. Tapi kalau kita tetap taat dan tsiqoh tanpa memahami landasan perintah pimpinan, barulah itu istimewa.”

    Sehingga bisa terjadi bahwa seorang pemimpin organisasi da’wah menyuruh para anggotanya untuk memilih orang fasik menjadi pemimpin di tengah masyarakat. Kemudian para anggotanya mentaati sepenuhnya perintah batil tersebut. Padahal track record (jejak-rekam) orang fasik tersebut sudah jelas memusuhi Islam dan da’wah selama ini. Tetapi karena para anggota organisasi sedemikian terbiasa dengan ketaatan membabi-buta, merekapun memenuhi permintaan pimpinan organisasi. Ini merupakan contoh ketaatan tercela yang sangat jelas.

    Jadi, akhirnya mereka tidak pernah mengasah otaknya untuk bertanya, adakah sebenarnya perintah pimpinan atau orang-tuanya selaras atau tidak dengan perintah Allah سبحانه و تعالى dan rasulNya صلى الله عليه و سلم ? Sebab itu sudah tidak menjadi persoalan lagi. Yang menjadi persoalan ialah bagaimana memperoleh penilaian positif, pengakuan, penghargaan, pujian dari pimpinan atau orang-tua dengan jalan selalu mentaati apapun yang mereka suruh. Akhirnya, orang-orang seperti ini telah mengabaikan mengejar ridha Allah سبحانه و تعالى sebagai tujuan utama kehidupan. Sebab bagi mereka yang penting adalah mengejar ridha pimpinan atau ridha orang-tua, dengan keyakinan bahwa jika pimpinan atau orang-tua sudah ridha pastinyalah Allah سبحانه و تعالى juga meridhai ketaatannya tersebut. Memang benar terdapat hadits Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم yang berbunyi:

    رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الْوَالِدِ وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

    "Ridha Allah terdapat pada ridha seorang bapak, dan murka Allah juga terdapat pada murkanya seorang bapak." (TIRMIDZI – 1821)

    Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda: “Barangsiapa mentaati aku, ia mentaati Allah سبحانه و تعالى dan barangsiapa mendurhakaiku, maka ia telah mendurhakai Allah سبحانه و تعالى . Barangsiapa mentaati pemimpin, maka ia mentaati aku dan barangsiapa mendurhakai pemimpin, maka ia mendurhakaiku.” (HR Ibnu Khuzaimah)

    Kedua hadits di atas merupakan hadits shahih. Namun tentunya kita tidak boleh melihatnya secara terpisah dari ayat-ayat Allah سبحانه و تعالى dan hadits-hadits Nabi صلى الله عليه و سلم lainnya. Sehingga Allah سبحانه و تعالى berfirman:

    وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي

    مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا

    “Dan jika keduanya (orang-tuamu) memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya.” (QS Lukman 15)

    Ketika orang-tua sudah memerintahkan anak agar menjadi hamba yang musyrik sudah barang tentu si anak tidak lagi wajib mentaati orang-tuanya, bahkan si anak menjadi haram mentaati orang-tuanya. Sebab Allah سبحانه و تعالى tidak pernah ridha kepada orang yang mempersekutukan diriNya dengan apapun. Bahkan dosa syirik merupakan dosa yang tidak terampuni..!

    إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ

    لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS An-Nisa 48)

    Jadi, walaupun Nabi صلى الله عليه و سلم menyatakan bahwa ridha Allah سبحانه و تعالى terdapat pada ridha orang-tua, tetapi mustahil seorang anak akan diridhai Allah سبحانه و تعالى ketika ia mentaati perintah orang-tuanya untuk berbuat dosa syirik..!

    Demikian pula dengan ketaatan kepada pimpinan. Kita harus selalu bersikap kritis dan teliti jangan sampai ketaatan kepada pimpinan menyebabkan hilangnya keridhaan Rasulullah صلى الله عليه و سلم bahkan keridhaan Allah سبحانه و تعالى ? Mungkinkah itu terjadi? Mungkin sekali. Karena itulah Rasulullah صلى الله عليه و سلم sampai bersabda:

    “Akan muncul pemimpin-pemimpin yang kalian kenal, tetapi kalian tidak menyetujuinya.Orang yang membencinya akan terbebaskan (dari tanggungan dosa). Orang yang tidak menyetujuinya akan selamat. Orang yang rela dan mematuhinya, tidak terbebaskan (dari tanggungan dosa)..” (MUSLIM 3445)

    Nabi صلى الله عليه و سلم mengatakan “Orang yang membencinya akan terbebaskan (dari tanggungan dosa). Orang yang tidak menyetujuinya akan selamat. Orang yang rela dan mematuhinya, tidak terbebaskan (dari tanggungan dosa).” Jadi, jangankan tidak mentaatinya, malah Nabi صلى الله عليه و سلم justeru menjamin kebaikan jika kita membenci dan tidak menyetujui pemimpin seperti itu. Sedangkan orang yang malah rela dan mematuhi pemimpin seperti itu berarti Nabi صلى الله عليه و سلم malah berlepas diri dari tanggungan dosa yang dipikul karena mentaatinya secara taqlid (membabi-buta).

    Pantas bila Allah سبحانه و تعالى ketika menyuruh orang-orang beriman agar mentaati para pemimpin hendaknya memperhatikan apakah pemimpin tersebut senantiasa menjadikan Allah سبحانه و تعالى dan RasulNya صلى الله عليه و سلم sebagai rujukan utama dalam penyelesaian berbagai perselisihan. Sebab, hanya dengan memenuhi kriteria itu sajalah seorang pemimpin layak ditaati oleh ummat Islam.

    Demikianlah Allah سبحانه و تعالى jelaskan di dalam KitabNya. Jika tidak kembali kepada aturan dan hukum Allah سبحانه و تعالى berarti kembalinya kepada hukum thaghut. Pilihan hanya dua: kembali kepada Allah سبحانه و تعالى atau kepada thaghut.

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالا بَعِيدًا

    “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (para pemimpin) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.(QS An-Nisa 59-60)

    Dan jika seseorang mentaati pemimpin semata karena meyakini bahwa mentaati pemimpin merupakan kebaikan yang harus dilakukan tanpa peduli apapun landasan perintahnya, tanpa sikap kritis dan teliti, tanpa sadar bahwa ternyata pemimpin malah mengajak untuk mendekati bahkan mentaati thaghut, maka orang tersebut sungguh berada dalam bahaya. Bahaya bukan sekedar di dunia, tetapi bahaya di akhirat. Itulah bahaya yang sejati dan abadi. Wa na’udzu billaahi min dzaalika…!

    يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ

    يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا

    وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا

    فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا رَبَّنَا آَتِهِمْ

    ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا

    “Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah baiknya, andaikata kami ta`at kepada Allah dan ta`at (pula) kepada Rasul". Dan mereka berkata: "Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah menta`ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Rabb kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar". (AS Al-Ahzab 66-68)

    Sumber: http://www.facebook.com/pages/MAJELIS-TAUSIAH-PARA-KYAI-USTADZ-INDONESIA/203914683789
    readmore »»  

    Continue lendo >>
    Kalau manfaat, jangan lupa dishare...

    Tanda-tanda Husnul Khatimah

    TANDA-TANDA HUSNUL KHATIMAH
     
    Setiap yang bernyawa pasti akan tiba ajalnya (Surah Ali-Imran [3]: 185). Hanya saja waktu dan lokasinya adalah sebuah misteri. Manusia tidak dapat mengetahui dan menetapkan jadual kematian, kerana ini adalah rencana dari Allah SWT.


    Kematian pula bukanlah kejadian biasa, tapi ia adalah peristiwa besar yang menyakitkan yang ditandai dengan terputusnya hubungan antara roh dan jasad, perubahan situasi dan adanya peralihan dari suatu alam ke alam lain.


    Kematian berlaku dengan fenomena yang beraneka ragam, secara umum boleh dibahagikan kepada dua keadaan. Pertama, meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah (akhir hayat yang baik).

    Dan kedua, meninggal dunia dalam keadaan suul khatimah (akhir hayat yang buruk). Keadaan yang pertama menunjukkan suatu gambaran bahawa nasib yang akan dialami oleh si mayat selepas kematiannya akan bahagia.

    Sebaliknya, keadaan yang kedua menggambarkan keburukan yang bakal dialaminya. Bagi orang yang meninggal dalam keadaan husnul khatimah mempunyai tanda-tanda tertentu yang sepatutnya diketahui oleh setiap individu, terutama kalangan umat Islam.

    Tanda-tanda tersebut, di antaranya sebagai berikut. Pertama, mengucapkan kalimat tauhid (syahadah). Nabi SAW bersabda, "Barang siapa yang di akhir hayatnya mengucapkan la ilaha illallah (tidak ada Tuhan yang berhak untuk disembah, kecuali Allah SWT), maka ia masuk syurga." (HR Abu Daud).

    Kedua, dahi atau kening berpeluh. Sebuah riwayat dari Buraidah bin Hashib ra, dia berada di Khurasan. Lalu, saudaranya kembali kepadanya dalam keadaan sakit sehingga ia sempat menyaksikan kematiannya.

    Saat saudaranya meninggal dunia, ia melihat peluh keluar dari dahi, dan berkata, "Allahu Akbar". Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Meninggalnya seorang Mukmin ditandai dengan peluh di dahinya." (HR Tirmizi, Nasa'i, dan Ibn Majah).

    Ketiga, meninggal dunia pada malam Jumaat atau siang harinya. Tanda ini adalah berdasarkan hadis yang diriwayatkan Abdullah bin Umar RA. Dia mendengar bahawa Nabi SAW bersabda, "Tidaklah seorang Muslim meninggal dunia pada hari Jumaat atau malamnya, melainkan Allah akan melindunginya dari fitnah siksa kubur." (HR Tirmizi).

    Keempat, mati syahid. Ada lima macam mati syahid yang disebutkan oleh Nabi Muhammad SAW, yakni disebabkan wabak (al-math'un), sakit perut (al-mabthun), karam atau tenggelam (al-ghariq), ditimpa tanah runtuh (shahibul hadm), dan syahid dalam perang di jalan Allah. (HR Bukhari dan Muslim).

    Itulah di antara tanda-tanda meninggal dunia secara husnul khatimah yang disebutkan oleh nabi dan rasul ikutan kita, Nabi Muhammad SAW. Mudah-mudahan kelak kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah (akhir yang baik), yakni golongan yang memperoleh hakikat kebahagiaan dan kemuliaan di sisi Allah SWT. Wallahu al-Musta'an. Sumber republika.co.id
    readmore »»  

    Continue lendo >>
    Kalau manfaat, jangan lupa dishare...
    Flag Counter

      ©webeson - All Rights Reserved.

    Template by Dicas Blogger | Top